April 23, 2009

SBY-JK AKHIRNYA PISAH ? DEMOKRAT JANGAN TERLALU AROGAN

Oleh ; Harmen Batubara

Begitulah yang kit abaca dan dengar beritanya, akhirnya partai Demokrat dan Golkar pisah ( Kompas,23 April 2009), meskipun kedua belak pihak masih sama-sama mengatakan tetap masih membuka pintu. Untuk sementara, kita sedih pada ahirnya koalisi yang sudah teruji selama ini ternyata di bubarkan juga. Demokrat dengan perolehan suara sementaranya yang diatas angin, merasa dapat mendikte permainan berikutnya. Memang kalau kita cermati perkembangan Demokrat ini ada sesuatu yang kurang sesuai dengan budaya kita di sana. Masih ingat ketika pak Mabarok mengatakan bahwa Golkar nantinya hanya akan jadi partai gurem dengan perolehan suara tidak lebih dari 2.5%? Beliau sebenarnya tidak pernah mengakui bahwa kata-kata seperti itu datang dari beliau, menurutnya itu semata-mata pelintirannya para pengelola media. Tapi ketika beliau tengah diwawancarai Media TV tentang statementnya tersebut, kesan saya beliau memang tercermin ingin memperlihatkan bahwa Demokrat itu Ok bangat sementara Golkar tidak siap. Kesan saya waktu itu, alangkah sombongnya beliau ini. Tuhan saja tidak pernah meu bertutur seperti itu ( Bacalah semua firman-firman Tuhan dimanapun berada).
Kemudian Demokrat masih terus dengan eforia kemenagannya, mereka lalu mencantumkan prasarat bagi seorang Cawapres dengan lima criteria baru. Pantaskah sebuah partai yang tadinya masih menginginkan Koalisi lalu membuat keriteria seperti itu. Apakah mereka tidak tahu bahwa JK itu adalah juga ketuanya Golkar? Alangkah naifnya sopan santun komunikasi politiknya Demokrat itu. Terlebih lagi mereka mensyaratkan agar Golkar kalau mau mencalonkan Cawapres ya minimal lima orang. Astaga, alngkah sombongnya orang-orang partai Demokrat itu. Kenapa pak SBY sebagai Pembina Demokrat mau merelakan sopan santun yang seperti itu dikemukakan oleh orang-orang di Demokrat ?
Kalau bukan SBY-JK hemat saya, maka semua platform jadi baru. Logikanya adalah kemampuan SBY-JK yes, tetapi kalau formasi yang lainnya maka nanti dulu. Hemat saya SBY tanpa JK masih perlu dipertanyakan kekuatannya. Dan pilihan yang lebih meyakinkan masih sangat banyak. Tapi apapun jadinya, satu hal yang ingin kita kemukakan adalah agar pak SBY agar tetap konsisten dengan upayanya yang akan mempopulerkan politik yang santun. Tetapi terus terang dengan cara Demokrat yang saat ini menurut saya, sangat kasar, arogan dan tanpa teposliro. Semoga saja Golkar tidak emosi dan jangan sakit hati. Terlebih lagi pak JK, bagaimanapun anda telah memperlihatkan semua kemampuan anda selama ini dan menurut saya Anda adalah pemimpin yang hebat.
Percayalah semua yang terjadi saat ini sepenuhnya ada dalam kendali Tuhan Yang Maha esa, yang perlu kita sikapi adalah mari melakukan sesuatu dengan kepala dingin, dan mohon petunjuk padaNya agar kita sebagai bangsa dan para pemimpin kita diberi semangat kebangsaan dan kesantunan yang baik. Perlu dicamkan, siapa yang jadi pemimpin bukanlah “domain” kita, dia sepenuhnya adalah milikNya. Yang utama kita harus tetap dengan niat baik dan demi semama. Presiden boleh ganti tetapi Indonesia tetap jaya.

No comments: