April 24, 2009

DIMANAPUN DAN KAPANPUN, YANG ABADI ADALAH KEPENTINGAN KELIHATANNYA DEMOKRAT MEMANG TIDAK MAU MEMANFAATKAN POTENSI GOLKAR

Oleh : Harmen Batubara

Golkar kini diambang perpecahan lagi, seperti lima tahun yang lalu di saat organisasi ini dituntut agar solid malah para kadernya justeru sebaliknya, saling sikut dan lebih mengedepankan kepentingan pribadi dan golongannya. Kinipun mereka kelihatannya akan mengulangi hal yang sama. Kelihatannya pola dan kekuatan Golkar lima tahun yang lalu itu masih mengkristal sama seperti yang dahulu itu. Kini kepentingan golongan itu muncul kembali secara gamblang. Hanya kalau di masa lima tahun lalu, Tuhan lalu memasangkan JK dengan SBY, maka jadilah. Secara perlahan Golkar juga terselamatkan, demikian juga dengan Demokrat, jadi kian jaya. Tetapi nampaknya apa yang ada di Golkar tetap dengan pola lama; kepentingan golongan tetap membatu, maka jadilah Golkar yang kita lihat saat ini. Sang ketua umumnya malah di pojokkan, sama seperti mereka memojokkannya pada lima tahun yang lalu.
Demokrat kini sebaliknya, mereka secara serius dan sesuai teori, sama-sama membangun partai tersebut secara santun dan eksklusif. Para tokohnya merasa merekalah yang harus menentukan jalannya kehidupan partai, dan tentu saja sesuai dengan arahan sang Pembina. Hasilnya memang sangat menggembirakan. Partai itu memperoleh suara dan naik lebih dari 300%. Suatu pencapaian yang luar biasa. Mereka kini mengelola mekanisme Partai bagai mengelola organisasi modern dan sesuai dengan pola-pola yang sebagaimana mestinya. Termasuk saat mereka meminta agar Golkar berkenan mengajukan calon Cawapresnya sampai lima orang. Dalam organisasi modern, hal seperti itu adalah sesuatu yang lumrah. Tetapi dalam sopan santun politik, tentu hal semacam itu sangat tidak etis. Kepada “sahabat” yang selama ini sudah demikian “kompak”, ujung-ujungnya malah di permalukan di depan halayak; terlebih lagi didepan para kadernya. Rasanya, “orang” dungu sekalipun tidaklah akan mau menerima tawaran seperti itu. Demokrat benar-benar menari diatas, “ketidak berdayaan” Golkar yang justeru selama ini telah begitu kuat membantu orang-orang democrat. Sekali lagi itulah politik. Dalam politik tidak ada yang tidak mungkin, jangankan sahabat, anak sendiri juga diembat. Semoga kita sudah tidak lagi dalam zaman yang seperti itu.
Mungkin tangan Tuhan sudah datang, yang maha kuasa barangkali mau memberikan kekuatan baru bagi kepemimpinan politik Indonesia. Doa kita mohonlah agar Tuhan tidak lagi memberi kita cobaan yang tidak perlu, cobaan yang memberikan bangsa ini kembali ketataran awal kembali. Sebab nalar sederhana saja, tadinya kita yakin kalau pasangan SBY-JK ini berlanjut, maka akan landailah pembangunan Indonesia, dan sebenarnya itulah suasana kebatinan bangsa; mempercayai agar SBY-JK tetap solid dan mau bergandengan tangan untuk membangun Indonesia kembali. Tapi tokh ternyata, bukan begitu jadinya. SBY dan Demokrat kelihatannya punya agenda tersendiri. Semoga saja agenda itu, direstui Tuhan, kalau tidak; ya kita mulai lagi dari nol. Terus terang seorang pemimpin itu bukanlah karena kehebatan pribadinya, tetapi karena ketulusan para rakyatnya. Jadi kalau ada seorang pemimpin yang merasa dialah yang paling jago, paling bisa maka siap-siaplah rakyatnya bakal sengsara. Tetapi semua itu pasti tidak ada yang lepas dari tuntunanNya. Semoga kita yang masih ada ini bisa menempatkan diri dan melakukan yang terbaik sesuai tatarannya masing-masing.

No comments: