March 20, 2009

GERAI JALAN TOL

POTENSI JALAN TOL SEBAGAI GERAI PASAR, DAN FACTORY OUTLET
Oleh Harmen Batubara *)

Pada tahun 1857 ketika Alfred Russel Wallace (1823-1913) seorang eksplorer Inggeris singgah di kota Makassar; yang pertama dia kagumi adalah keadaan kota yang bersih, tertata rapi dengan suasana pasar yang di gelar menyatu dengan halaman rumah-rumah penduduk, pada badan jalan. Badan jalan itu, tak ubahnya bagai gerai pasar atau semacam factory outlet yang mencoba mempertemukan para pendatang dengan semua potensi daerah; di sana ada hasil tanaman, rempah-rempah, buah-buahan, dan juga daging binatang buruan, atau hewan peliharaan. Kalau kita memaknai ilmu Change atau Re-code nya Renhal Kasali, maka setidaknya potensi jalan tol, khususnya pusat-pusat peristirahatan antar wilayah, seperti Jakarta-Bandung, sudah bisa berubah menjadi arena pamer bagi semua produk yang jadi potensi di wilayah itu. Jadi pajangan bagi produk pabrik, kerajinan, dan bahan baku lainnya.
Setiap tempat pemberhentian merupakan suatu atau beberapa thema dari produk Jawa Barat. Bisa dibayangkan, bahwa gerai semacam itu pasti akan membutuhkan pusat-pusat bahan baku, yang pada gilirannya menghidupkan pertanian, perkebunan, penangkaran para pengrajin, seniman, tukang dan seterusnya. Sayangnya, jangankan berubah malah pasar-pasar seperti abad ke 18 itu masih kita temukan disaantero wilayah nusantara dengan nama yang berbeda antara etnis pulau yang satu dan lainnya; seperti pasar kliwon, rebonan dan sejenisnya yang digelar sekali dalam seminggu di pulau jawa, atau poken di Tapanuli pulau sumatera dan bahkan di papua. Ternyata pasar dalam budaya masyarakat nusantara adalah pasar dengan lokasi seadanya, menyatu dengan lingkungan dan rumah-rumah penduduk, ia bisa berada di tengah atau di ujung kampung.
Seratus dua puluh lima tahun kemudian, Clifford Geertz, (Penjaja dan Raja 1977:29) melihat fenomena lain; menurutnya para pedagang Jawa adalah “para pengusaha tanpa perusahaan”, sekedar memperlihatkan betapa susahnya memformalkan usaha mereka; Para pedagang Indonesia, khususnya Jawa sesungguhnya adalah pengusaha yang punya talenta dan kemampuan membuat jaringan sosial; satu-satunya yang tidak mereka miliki adalah wadah yang berbentuk organisasi yang modern dan efisien. Mereka lemah dalam menata dan mengorganisasikan diri, dan juga tak mampu membangun usaha sejenis MLM. Pada tahun 2006 Hernando De Soto melihat fenomena tersebut sebagai kegagalan negara dunia ketiga dalam menata asset warganya. Menurut penulis buku The mystery of the Capital: Why Cavitalism thriumphs in the west and fails everywere else; kegagalan penataan asset tersebut, menyebabkan para pengusaha jawa “nusantara” tidak punya perusahaan.

No comments: